Mengenal Lebih Dalam Gaya Pengasuhan (Parenting Style) dan Dampaknya pada Anak
Author: Debby Nia Novinta, M.Psi., Psikolog Educational & Developmental Child Psychologist
Apa itu Parenting Style?
Parenting style atau gaya pengasuhan adalah cara orang tua berinteraksi, memberi arahan, dan menanamkan nilai kepada anak dalam kehidupan sehari-hari.
Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Diana Baumrind (1967), seorang psikolog perkembangan yang menemukan bahwa gaya pengasuhan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian, kemandirian, dan regulasi emosi anak.
Baumrind membagi gaya pengasuhan menjadi empat tipe utama:
- Authoritative (Demokratis)
- Authoritarian (Otoriter)
- Permissive (Memanjakan)
- Neglectful (Mengabaikan)
Mengapa Parenting Style Penting bagi Anak?
Gaya pengasuhan memengaruhi hampir seluruh aspek perkembangan anak — mulai dari cara berpikir, kemampuan sosial, kepercayaan diri, hingga regulasi emosi.
Penelitian menunjukkan bahwa parenting style yang sehat membantu anak:
- Memiliki konsep diri positif.
- Mampu mengelola emosi dengan baik.
- Memiliki hubungan sosial yang sehat.
- Lebih mudah beradaptasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Sebaliknya, gaya pengasuhan yang tidak konsisten atau ekstrem (terlalu keras atau terlalu permisif) dapat meningkatkan risiko kecemasan, agresivitas, hingga rendahnya kontrol diri.
Jenis-jenis Parenting Style dan Contohnya
1. Authoritative (Demokratis)
- Orang tua tegas tetapi hangat.
- Memberikan aturan yang jelas dan konsisten, namun tetap menghargai pendapat anak.
- Menggunakan penjelasan logis saat menegur atau memberi batasan.
Contoh perilaku:
Orang tua berkata, “Kamu boleh main sepeda setelah mengerjakan PR, ya. Supaya waktumu teratur.”
Dampak positif:
Anak lebih mandiri, percaya diri, memiliki empati, dan disiplin karena belajar memahami alasan di balik aturan.
- Authoritarian (Otoriter)
- Menuntut kepatuhan mutlak, sedikit memberi ruang untuk berdiskusi.
- Mengandalkan hukuman daripada penjelasan.
- Komunikasi satu arah, dari orang tua ke anak.
Contoh perilaku:
“Pokoknya Mama bilang jangan keluar rumah malam! Titik.”
Dampak pada anak:
Anak mungkin patuh, tapi cenderung cemas, takut membuat kesalahan, atau memiliki harga diri rendah.
- Permissive (Memanjakan)
- Terlalu longgar, jarang memberi aturan tegas.
- Ingin anak selalu senang, sering menghindari konflik.
- Menganggap “bebas berekspresi” berarti tanpa batas.
Contoh perilaku:
“Ya sudah, terserah kamu mau tidur jam berapa.”
Dampak pada anak:
Anak bisa kesulitan mengatur diri, kurang disiplin, dan cenderung manja atau mudah frustrasi saat menghadapi aturan di luar rumah.
- Neglectful (Mengabaikan)
- Kurang keterlibatan emosional dan fisik.
- Tidak memberi batasan atau dukungan yang cukup.
- Anak tumbuh tanpa arahan dan tanpa rasa aman emosional.
Contoh perilaku:
Orang tua jarang memantau kegiatan anak, sibuk dengan urusan pribadi, dan jarang berkomunikasi.
Dampak pada anak:
Anak merasa tidak diperhatikan, sulit mempercayai orang lain, dan bisa menunjukkan perilaku bermasalah.
Faktor yang Mempengaruhi Parenting Style
- Latar belakang keluarga & budaya – nilai-nilai tradisi sering memengaruhi cara orang tua menetapkan aturan.
- Pendidikan & pemahaman psikologis orang tua – semakin tinggi pemahaman, semakin fleksibel dan sadar dalam mengasuh.
- Kondisi stres & dukungan sosial – orang tua yang lelah atau stres cenderung lebih otoriter atau mengabaikan.
- Kepribadian orang tua & anak – anak dengan temperamen sulit bisa memicu pola asuh tertentu bila tidak dikelola dengan empati.
Dampak Bila Parenting Style Tidak Tepat
- Anak menjadi kurang percaya diri atau justru terlalu menentang.
- Sulit mengatur emosi (mudah marah, cemas, atau menarik diri).
- Muncul masalah perilaku di rumah atau sekolah.
- Gangguan dalam relasi sosial (mudah konflik atau sulit beradaptasi).
Saran & Strategi Praktis untuk Orang Tua
- Gunakan komunikasi dua arah – dengarkan perasaan anak sebelum memberi instruksi.
- Berikan batasan yang jelas tetapi fleksibel – misalnya, boleh bermain, tapi setelah tanggung jawab selesai.
- Hindari ancaman & hukuman keras – ganti dengan konsekuensi logis (“Kalau mainan tidak dibereskan, Mama simpan dulu supaya tidak hilang”).
- Berikan pujian yang spesifik – “Mama senang kamu ingat mengucap terima kasih ke nenek tadi.”
- Jaga kehangatan dan kehadiran emosional – anak lebih mudah mengikuti aturan jika merasa disayangi.
Kapan orang tua perlu konsultasi?
Konsultasi ke psikolog anak & keluarga disarankan bila:
- Anak sering menunjukkan perilaku menentang, menarik diri, atau tantrum berlebihan.
- Orang tua merasa lelah, bingung, atau sering bersalah dalam mengasuh.
- Pola komunikasi keluarga penuh konflik atau salah paham.
Psikolog dapat membantu menilai gaya pengasuhan yang berjalan, memahami dinamika keluarga, serta merancang strategi komunikasi yang lebih efektif.
Perspektif Psikolog & Okupasi
- Psikolog: menilai dampak pola asuh terhadap emosi dan perilaku anak, serta membantu membangun komunikasi yang lebih empatik dan asertif dalam keluarga.Terapis okupasi: meski fokus pada aspek fungsi sehari-hari, terapis juga mendukung orang tua dalam membentuk rutinitas yang sehat dan konsisten, yang menjadi bagian dari pola asuh efektif.
Sumber
- Baumrind, D. (1967). Child care practices anteceding three patterns of preschool behavior. Genetic Psychology Monographs, 75, 43–88.
- Maccoby, E. E., & Martin, J. A. (1983). Socialization in the context of the family: Parent-child interaction. In Handbook of Child Psychology (Vol. 4).
- Darling, N., & Steinberg, L. (1993). Parenting style as context: An integrative model. Psychological Bulletin, 113(3), 487–496.
- Santrock, J. W. (2018). Child Development (15th ed.). McGraw-Hill Education.