Co-Parenting Bersama Kakek dan Nenek — Dukungan atau Tantangan?

Author: Debby Nia Novinta, M.Psi., Psikolog Educational & Developmental Child Psychologist

Apa itu Co-Parenting oleh Kakek dan Nenek?

Co-parenting berarti berbagi tanggung jawab pengasuhan anak antara dua atau lebih pihak dewasa. Umumnya dilakukan oleh orang tua kandung, namun dalam banyak keluarga modern — terutama di Indonesia — kakek dan nenek juga menjadi figur penting dalam pengasuhan.

Keterlibatan mereka bisa sangat membantu, terutama ketika orang tua bekerja atau tinggal bersama keluarga besar. Namun, jika tidak dikelola dengan komunikasi yang baik, perbedaan nilai dan gaya pengasuhan antar generasi dapat menjadi sumber konflik yang memengaruhi perkembangan anak.

Menurut Family Systems Theory (Bowen, 1978), keluarga berfungsi sebagai satu sistem yang saling terhubung — ketika satu bagian (misalnya, kakek-nenek) mengambil peran besar dalam pengasuhan, maka keseimbangan sistem keluarga ikut berubah.

Mengapa Peran Kakek dan Nenek Penting?

Kakek dan nenek bisa menjadi sumber kasih sayang, pengalaman, dan stabilitas emosional bagi anak. Penelitian oleh Dunifon et al. (2018) menunjukkan bahwa keterlibatan positif kakek-nenek dapat meningkatkan rasa aman, kebahagiaan, dan kompetensi sosial anak.

Beberapa manfaat positifnya:

  • Anak merasa lebih diterima dan disayangi banyak pihak.
  • Kakek-nenek menjadi role model dalam nilai budaya dan moral keluarga.
  • Menjadi dukungan nyata bagi orang tua dalam mengasuh, terutama pada masa sibuk atau stres.

Namun, peran ini bisa menjadi tantangan jika tidak ada batasan dan komunikasi yang jelas antara orang tua dan kakek-nenek.

Faktor yang Mempengaruhi Dinamika Co-Parenting

  1. Nilai budaya dan generasi – misalnya, generasi kakek-nenek cenderung lebih otoriter, sedangkan orang tua muda lebih demokratis.
  2. Kondisi sosial ekonomi – keluarga yang tinggal bersama sering kali menghadapi batasan ruang privat dan otoritas.
  3. Kesehatan emosional kakek-nenek – jika mereka merasa “lebih tahu” atau sulit mempercayai gaya asuh anaknya, konflik lebih mudah muncul.
  4. Kejelasan peran – apakah kakek-nenek sebagai pendukung, pengasuh utama, atau penasehat?

 

Dampak Co-Parenting oleh Kakek Nenek

 Dampak Positif

  • Anak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan keluarga besar.
  • Nilai-nilai tradisi, kesopanan, dan rasa hormat lebih mudah tertanam.
  • Orang tua merasa lebih ringan beban karena ada dukungan pengasuhan.

Dampak Negatif (jika tidak seimbang)

  • Anak menjadi bingung karena aturan berbeda dari orang tua dan kakek-nenek (“Mama nggak boleh, tapi Nenek boleh”).
  • Konflik emosional antar generasi (orang tua merasa dikritik, kakek-nenek merasa tidak dipercaya).
  • Anak bisa belajar “memilih pihak” untuk mendapatkan keinginannya.
  • Kemandirian anak bisa terhambat jika terlalu dilindungi atau dimanjakan.

Saran & Strategi Praktis untuk Orang Tua

  1. Bangun komunikasi terbuka dan saling menghargai.
    Jelaskan kepada kakek-nenek tentang nilai dan cara pengasuhan yang ingin diterapkan, dengan nada menghormati:
    “Bu, kami ingin membiasakan anak mandiri, jadi biarkan dia makan sendiri meski agak berantakan ya.”
  2. Libatkan mereka dalam kegiatan positif bersama anak.
    Misalnya membaca buku cerita, menanam tanaman, atau bercerita tentang masa kecil — aktivitas yang mempererat hubungan tanpa benturan aturan.
  3. Buat batasan yang jelas tetapi sopan.
    Tidak perlu mengontrol, cukup disepakati bersama mana hal yang boleh dibantu, mana yang menjadi ranah orang tua.
  4. Fokus pada tujuan yang sama: kebahagiaan anak.
    Saat muncul perbedaan pendapat, kembali pada niat utama — bukan siapa yang benar, tetapi apa yang terbaik untuk anak.
  5. Gunakan bahasa apresiatif. Alih-alih mengkritik, gunakan pengakuan: “Terima kasih, Ayah Ibu sudah bantu jagain si kecil. Saya tahu Ayah Ibu sayang sekali sama dia. Boleh nggak kalau untuk urusan tidur siang kami coba cara baru ini?”

Kapan Orang Tua Perlu Konsultasi?

Pertimbangkan konsultasi dengan psikolog keluarga atau konselor parenting bila:

  • Konflik antar generasi mulai berdampak pada emosi anak (anak bingung, cemas, atau mudah menantang).
  • Kakek-nenek terlalu mengambil alih keputusan tanpa komunikasi.
  • Orang tua merasa kehilangan otoritas di rumah.
  • Anak menunjukkan perilaku berbeda antara di rumah dan di tempat lain.

Psikolog dapat membantu menengahi komunikasi antar generasi, membangun kesepakatan peran yang sehat, serta melatih pola komunikasi empatik dalam keluarga besar.

Perspektif Psikolog & Okupasi

  • Psikolog: fokus pada dinamika relasi, komunikasi, dan dampak emosional terhadap anak serta orang tua. Membantu keluarga membangun boundaries yang sehat tanpa kehilangan kehangatan.
  • Terapis okupasi: meskipun tidak langsung menangani relasi keluarga, terapis dapat membantu kakek-nenek dan orang tua memahami rutinitas anak yang sehat — seperti pola tidur, makan, dan aktivitas sensorimotor — agar semua pihak mengikuti pola yang konsisten.

Sumber Kredibel

  • Bowen, M. (1978). Family Therapy in Clinical Practice. Jason Aronson.
  • Dunifon, R., Near, C. E., & Ziol-Guest, K. M. (2018). Grandparent coresidence and family well-being: Implications for research and policy. The Annals of the American Academy of Political and Social Science, 680(1), 32–48.
  • Attar-Schwartz, S., Tan, J. P., & Buchanan, A. (2009). Grandparenting and adolescent well-being: Evidence from the UK and the US. Journal of Family Issues, 30(12), 1745–1771.
  • Santrock, J. W. (2018). Life-Span Development (15th ed.). McGraw-Hill Education.
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *