Mengenal Jenis Sensori pada Anak: Propioseptif
Author: Debby Nia Novinta, M.Psi., Psikolog Educational & Developmental Child Psychologist
Apa Itu Sensory Propioseptif?
Sistem proprioseptif adalah sistem sensorik yang membantu anak menyadari posisi tubuh, gerakan, dan kekuatan otot. Reseptornya ada di otot, sendi, dan ligamen, lalu mengirimkan informasi ke otak.
Mengapa penting sensori propioseptif pada anak?
Jean Ayres (1972), pelopor teori Sensory Integration, menekankan bahwa propriosepsi sangat penting untuk kontrol motorik, konsentrasi, dan regulasi emosi. Tanpa sistem ini, anak sulit menyesuaikan kekuatan gerakannya—misalnya menulis terlalu keras atau terlalu lemah.
Faktor yang Mempengaruhi perkembangan sensori propioseptif pada anak
- Kematangan saraf pusat: Otak butuh perkembangan optimal untuk memproses informasi sensorik.
- Pengalaman gerak: Anak yang jarang bermain fisik lebih lambat mengembangkan propriosepsi.
- Kondisi perkembangan tertentu: Anak dengan ASD atau ADHD sering menunjukkan perilaku mencari input proprioseptif.
- Lingkungan: Orang tua yang terlalu membatasi eksplorasi fisik (misalnya melarang anak melompat, memanjat) dapat mengurangi stimulasi proprioseptif.
Contoh Perilaku Sehari-hari jika propioseptif anak belum berkembang :
- Sering menabrak meja, kursi, atau temannya saat berjalan.
- Sulit mengatur kekuatan saat menulis (terlalu tebal atau terlalu samar).
- Suka melompat di kasur atau menabrakkan tubuh ke bantal (sensory seeking).
- Terlihat kikuk atau canggung saat bermain bola.
- Kesulitan duduk tenang lama-lama, tubuh sering bergerak tanpa sadar.
Dampak jika sensori propioseptif anak belum berkembang
- Di rumah: Anak sulit makan sendiri (tumpah), sulit pakai baju (kancing, tali sepatu).
- Di sekolah: Tulisan sulit terbaca, cepat lelah, terlihat “tidak hati-hati” dalam aktivitas kelas.
- Sosial: Teman bisa salah paham, merasa anak “kasar” karena memeluk atau menabrak terlalu keras.
- Emosi: Anak frustrasi saat gagal melakukan aktivitas sederhana → bisa tantrum atau menolak mencoba lagi.
Saran & Stimulasi yang Sesuai
- Heavy Work Activities (aktivitas memberi tekanan pada otot & sendi)
- Mendorong kursi, membawa tas sekolah sendiri (dengan berat wajar).
- Bermain dorong-tarikan (tug of war).
- Merangkak di bawah meja atau terowongan.
- Permainan motorik kasar
- Lompat trampolin, naik perosotan, bermain panjat-panjatan.
- Menangkap dan melempar bola berbagai ukuran.
- Stimulasi di kegiatan harian
- Membantu pekerjaan rumah sederhana (menyapu, mengepel, membawa belanjaan ringan).
- Menguleni adonan kue, meremas playdough.
- Strategi regulasi emosi
- Pelukan bertekanan (deep pressure hug).
- Menggunakan bantal berat (weighted pillow/lap pad) saat belajar.
Perspektif Psikolog & Okupasi
- Psikolog melihat tantangan proprioseptif tidak hanya soal motorik, tapi juga berhubungan dengan regulasi emosi dan interaksi sosial. Anak yang tampak “nakal” atau “hiperaktif” bisa jadi sebenarnya sedang mencari input sensorik. Edukasi orang tua menjadi kunci agar anak tidak langsung diberi label negatif.
- Terapis okupasi menggunakan pendekatan Sensory Integration Therapy untuk memberikan latihan terstruktur. Fokusnya membantu anak lebih mampu mengontrol tubuh, fokus belajar, dan percaya diri dalam aktivitas harian.
Sumber
- Ayres, A. J. (1972). Sensory Integration and Learning Disorders. Los Angeles: Western Psychological Services.
- Schaaf, R. C., & Mailloux, Z. (2015). Clinician’s Guide for Implementing Ayres Sensory Integration: Promoting Participation for Children with Autism. American Journal of Occupational Therapy.
- Bundy, A. C., Lane, S. J., & Murray, E. A. (2002). Sensory Integration: Theory and Practice. Philadelphia: F.A. Davis Company.