Mengenal Jenis Sensori pada Anak: Visual (Penglihatan)

Author: Debby Nia Novinta, M.Psi., Psikolog Educational & Developmental Child Psychologist

Apa Itu Sensory Visual?

Sistem visual bukan hanya soal kemampuan melihat jelas atau kabur, tetapi juga bagaimana otak memproses informasi visual — bentuk, warna, jarak, arah, gerakan, hingga koordinasi mata dengan tubuh.

Menurut teori Sensory Integration (Ayres, 1972), sistem visual adalah salah satu fondasi keterampilan akademik. Anak yang memiliki integrasi visual baik akan lebih mudah membaca, menulis, dan memahami arah.

Selain itu, sistem visual berhubungan erat dengan konsentrasi, koordinasi motorik, dan keterampilan sosial. Misalnya, anak belajar memahami ekspresi wajah atau membaca bahasa tubuh melalui proses visual.

Mengapa Penting Sensory Visual pada Anak

  • Membantu anak mengenal lingkungan sekitar.
  • Menjadi dasar untuk belajar membaca, menulis, dan keterampilan akademik.
  • Mendukung koordinasi mata-tangan (misalnya saat menulis atau menangkap bola).

Contoh Perilaku Sehari-hari Terkait Sensori Visual

Normalnya, Anak bisa mengikuti benda bergerak dengan mata, tertarik pada warna, mampu membedakan bentuk. Akan tetapi terdapat beberapa tantangan jika sensory visual anak tidak terstimulasi dengan baik, yaitu:

  • Over-responsive (terlalu peka):
    • Silau dengan cahaya terang atau lampu neon.
    • Mudah terganggu oleh gerakan kecil di sekitarnya.
    • Menutup mata atau menghindari aktivitas visual tertentu.
  • Under-responsive:
    • Tidak menyadari perubahan di sekitarnya.
    • Tampak “melamun” meski ada gerakan jelas di depan mata.
  • Kesulitan pemrosesan visual:
    • Sering menabrak benda di rumah/kelas.
    • Sulit menyalin tulisan dari papan ke buku.
    • Kesulitan membedakan huruf yang mirip (b-d-p-q).
    • Sering kehilangan barang karena tidak memperhatikan letaknya.

Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Sensori Visual Anak

  • Faktor lingkungan (ruang kelas terlalu ramai dengan warna/visual).
  • Kematangan saraf penglihatan (visual cortex) di otak.
  • Kesehatan mata (rabun jauh, rabun dekat, astigmatisme).
  • Pengalaman eksplorasi visual – anak yang jarang diberi kesempatan eksplorasi lingkungan bisa kurang terlatih fokus visualnya.
  • Gangguan perkembangan – anak dengan disleksia, ADHD, atau ASD sering memiliki tantangan dalam pemrosesan visual.

Dampak Bila Terganggu

  • Faktor lingkungan (ruang kelas terlalu ramai dengan warna/visual).
  • Kematangan saraf penglihatan (visual cortex) di otak.
  • Kesehatan mata (rabun jauh, rabun dekat, astigmatisme).
  • Pengalaman eksplorasi visual – anak yang jarang diberi kesempatan eksplorasi lingkungan bisa kurang terlatih fokus visualnya.
  • Gangguan perkembangan – anak dengan disleksia, ADHD, atau ASD sering memiliki tantangan dalam pemrosesan visual.

Saran & Stimulasi

  • Aktivitas visual sehari-hari
    • Bermain puzzle, lego, atau balok susun.
    • Permainan mencari benda tersembunyi (I Spy Game).
    • Mencocokkan gambar atau pola sederhana.

  • Latihan koordinasi visual-motorik  
    • Menyalin bentuk/garis sederhana.
    • Mewarnai dalam garis.
    • Menangkap dan melempar bola berukuran berbeda.

  • Stimulasi outdoor
    • Jalan-jalan sambil mengamati lingkungan sekitar (misalnya mencari benda berwarna merah di jalan).
    • Menggambar dengan kapur di lantai, lalu melompat mengikuti pola.

  • Strategi praktis untuk orang tua
    • Pastikan pencahayaan ruangan cukup (tidak terlalu redup/terang).
    • Gunakan warna kontras untuk membantu fokus (misalnya garis tebal di tepi kertas saat menulis).
    • Beri waktu istirahat visual setelah aktivitas membaca/gadget.

Kapan Perlu Konsultasi?

Jika anak sering menutup satu mata, terlalu dekat melihat buku/layar, atau menghindari aktivitas visual — sebaiknya diperiksa ke dokter mata, lalu bila perlu ke psikolog/terapis okupasi.

Perspektif Psikolog & Okupasi

  • Psikolog: membantu orang tua memahami bahwa kesulitan anak dalam membaca, menulis, atau konsentrasi bukan semata karena “malas”, tetapi bisa terkait pemrosesan visual. Pendampingan emosi juga penting agar anak tidak kehilangan kepercayaan diri.

  • Terapis okupasi: fokus melatih keterampilan visual-motorik dan koordinasi, misalnya dengan program menyalin pola, bermain keseimbangan sambil mengarahkan pandangan, hingga latihan integrasi mata-tangan.

Sumber

  • Ayres, A. J. (1972). Sensory Integration and Learning Disorders. Los Angeles: Western Psychological Services.
  • Bundy, A. C., Lane, S. J., & Murray, E. A. (2002). Sensory Integration: Theory and Practice. Philadelphia: F.A. Davis Company.
  • Schaaf, R. C., & Mailloux, Z. (2015). Clinician’s Guide for Implementing Ayres Sensory Integration. American Journal of Occupational Therapy.
  • Schneck, C. M. (2010). Visual Perception. In Case-Smith, J. (Ed.), Occupational Therapy for Children.
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *