Mengenal Lebih Lanjut Sensory Processing pada Anak - Perspektif Psikolog
Author: Debby Nia Novinta, M.Psi., Psikolog Educational & Developmental Child Psychologist
Pentingnya Mengetahui Sensory Processing
Sensory processing atau proses sensorik adalah cara otak menerima, mengatur, dan merespons informasi dari indera. Anak setiap hari mendapat input dari pancaindra (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan), serta dari indera tambahan yaitu vestibular (keseimbangan & gerakan) dan proprioseptif (posisi tubuh & otot). Menurut teori Sensory Integration (Ayres, 1972) ada 8 sistem sensorik utama:
Proprioseptif (kesadaran tubuh & gerakan otot-sendi)
Vestibular (keseimbangan & orientasi ruang)
Taktil (sentuhan & tekstur
Visual (penglihatan & pemrosesan visual)
Auditori (pendengaran & pemrosesan suara)
Olfaktori (penciuman)
Gustatori (perasa/rasa makanan)
Interosepsi (sensasi internal tubuh, misalnya lapar, haus, sakit, ingin buang air)
Dari perspektif psikologi perkembangan, kemampuan memproses informasi sensorik secara efektif menjadi dasar penting bagi perhatian, emosi, keterampilan sosial, serta kesiapan belajar anak.
Mengapa sensory processing penting?
- Dasar regulasi diri: anak yang bisa mengolah input sensorik dengan baik akan lebih mudah mengatur emosi dan fokus.
- Keterampilan motorik: koordinasi gerak halus dan kasar dipengaruhi oleh integrasi sensorik.
- Interaksi sosial: anak yang nyaman dengan input sensorik lebih mudah bermain bersama teman.
- Kesiapan belajar: duduk tenang, menulis, mendengarkan guru, semua bergantung pada pemrosesan sensorik yang stabil.
Variasi dalam pemrosesan sensorik
Tidak semua anak merespons input sensorik dengan cara yang sama. Menurut Miller et al. (2007), ada beberapa pola dalam pemrosesan sensorik pada anak:
- Sensory seeking ( anak mencari rangsangan)
Anak aktif mencari sensasi, misalnya suka meloncat, menyentuh berbagai benda, atau membuat suara keras. - Sensory avoiding (anak menghindari rangsangan)
Anak mudah kewalahan oleh suara keras, cahaya terang, atau tekstur tertentu (misalnya baju terasa “gatal”). - Sensory sensitivity
Anak bereaksi cepat terhadap rangsangan (mudah kaget, terganggu suara kecil). - Low registration (respon rendah)
Anak tampak “lambat tanggap,” tidak cepat merespons suara, sentuhan, atau instruksi.
- Sensory seeking ( anak mencari rangsangan)
Kapan anak perlu diperhatikan lebih lanjut?
- Jika anak memiliki respons sensorik ekstrem yang mengganggu aktivitas harian (seperti saat makan, tidur, sekolah).
- Anak sering tantrum di situasi tertentu (misalnya di tempat ramai).
- Anak sulit mengikuti kegiatan kelas karena input sensorik.
Dalam kasus seperti ini, biasanya Psikolog anak dapat melakukan asesmen, dan bekerja sama dengan terapis okupasi dalam memberikan intervensi.
Dukungan yang bisa diberikan jika anak memiliki masalah sensory
- Lingkungan ramah sensorik: misalnya menyediakan sudut tenang di kelas, mengurangi kebisingan.
- Main sensorik terarah: bermain pasir, air, playdough, ayunan — untuk membantu integrasi sensorik.
- Rutinitas konsisten: anak lebih siap menghadapi stimulasi jika tahu apa yang akan terjadi.
- Validasi emosi anak: “Aku tahu suara itu bikin kamu kaget, ayo kita cari tempat lebih tenang.”
- Kolaborasi lintas-profesi: psikolog, guru, dan terapis okupasi bersama-sama merancang strategi.
Perspektif psikolog
Psikolog melihat sensory processing bukan hanya soal “gangguan,” tetapi juga spektrum pengalaman anak. Ada anak yang butuh lebih banyak stimulasi, ada yang perlu perlindungan dari stimulasi berlebih. Dengan pendekatan holistik, intervensi berfokus pada:
- Mengurangi distress anak.
- Membantu anak menemukan strategi regulasi diri.
- Membekali orang tua & guru cara mendukung tanpa memaksa.
Sumber
- Miller, L. J., Anzalone, M. E., Lane, S. J., Cermak, S. A., & Osten, E. T. (2007). Concept evolution in sensory integration: A proposed nosology for diagnosis. American Journal of Occupational Therapy.
- Schaaf, R. C., & Davies, P. L. (2010). Evolution of the sensory integration frame of reference. American Journal of Occupational Therapy.
- Dunn, W. (2014). Sensory Profile 2: User’s Manual. Pearson. (alat asesmen sensorik).
- Bundy, A. C., Lane, S. J., & Murray, E. A. (2020). Sensory Integration: Theory and Practice (3rd ed.). F.A. Davis.