Mengenali Gangguan Spektrum Autisme (ASD) pada Anak: Ciri, Penyebab, dan Terapi
Author: Tita Ristawaty, M.Psi., Psikolog & Oktarian Nisa Wulandari, M.Psi., Psikolog
Table of Contents
Gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) kini tidak lagi dipandang sebagai keterbatasan semata, tetapi juga sebagai bagian dari keberagaman cara berpikir manusia. Banyak individu dengan ASD menunjukkan potensi luar biasa di berbagai bidang, mulai dari seni, teknologi, hingga kemampuan analitis yang tinggi.
Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dan lingkungan dapat menjadi lebih inklusif, empatik, dan mampu menciptakan ruang yang aman serta mendukung bagi setiap anak tanpa terkecuali. Artikel ini akan membahas apa itu ASD, ciri dan gejalanya, penyebab yang memengaruhinya, hingga jenis terapi penunjang yang dapat dipertimbangkan.
Apa Itu Gangguan Spektrum Autisme (ASD)?
Autism Spectrum Disorder (ASD) termasuk dalam kelompok gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang memengaruhi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, serta pola perilaku anak.
Menurut World Health Organization (WHO), autisme memiliki prevalensi yang cukup tinggi dan memengaruhi sekitar 1 dari 100 anak di seluruh dunia.
Untuk dapat didiagnosis dengan ASD, seorang anak harus menunjukkan hambatan yang menetap dalam komunikasi dan interaksi sosial, seperti:
* Keterlambatan bicara
* Echolalia (mengulang kata atau kalimat)
* Mutism (tidak berbicara sama sekali)
* Pembalikan kalimat
Selain itu, anak dengan ASD umumnya menunjukkan pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan berulang sejak masa perkembangan awal. Mereka juga sering memiliki daya ingat yang kuat, minat yang terbatas namun intens, serta kecenderungan mempertahankan keteraturan lingkungan secara kaku (rigid).
Pada banyak kasus, anak dengan ASD mengalami keterlambatan atau hambatan perkembangan yang tidak sesuai dengan milestone usianya.
Apa Saja Ciri dan Gejala Autisme pada Anak?
Gejala ASD bervariasi pada setiap anak, baik dari segi jenis maupun tingkat keparahannya. Berikut beberapa gejala klinis yang sering dijumpai.
Gangguan Motorik
Anak dapat menunjukkan perilaku motorik berulang atau gerakan stereotipik, seperti duduk sambil mengayunkan badan ke depan dan ke belakang, atau gerak tubuh yang kaku. Sebagian anak juga mengalami hambatan motorik seperti kelemahan otot, kesulitan menjaga keseimbangan, kecanggungan gerak, atau berjalan di atas ujung kaki (toe walking).
Gangguan Komunikasi dan Bahasa
Banyak orang tua khawatir ketika anak belum lancar bicara, padahal tidak semua keterlambatan bicara berkaitan dengan autisme. Penting untuk memahami perbedaan speech delay dan telat bicara yang perlu orang tua ketahui, agar Anda dapat mengenali kapan kondisi ini perlu perhatian lebih. Untuk gambaran lengkapnya, Anda juga dapat membaca tahapan normal perkembangan bahasa anak beserta tanda keterlambatannya
Gangguan Emosi dan Afek
Anak dapat mengalami perubahan perasaan secara tiba-tiba, misalnya tertawa tanpa sebab yang jelas atau mendadak menangis.
Gangguan Persepsi Sensoris
Anak terkadang tidak merasakan sakit saat terluka atau terbentur. Kondisi ini dipengaruhi oleh hambatan otak dalam memproses informasi dari luar (sensory processing), sehingga anak bisa kurang peka atau justru terlalu sensitif terhadap rangsangan tertentu.
Hambatan pemrosesan sensori ini juga sering memengaruhi kebiasaan makan anak. Jika si kecil cenderung sangat pemilih terhadap tekstur atau jenis makanan tertentu, Anda dapat memahami kaitannya melalui artikel picky eater dan sensori: mengapa anak suka pilih-pilih makanan
Karena gejalanya sangat beragam, diperlukan asesmen komprehensif bersama profesional untuk memperoleh gambaran kondisi anak secara menyeluruh.
Apa Penyebab Autisme pada Anak?
Di masyarakat berkembang anggapan bahwa penggunaan gadget atau screen time berlebihan pada anak usia dini (di bawah 2 tahun) dapat menyebabkan ASD. Namun, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa penggunaan gadget merupakan penyebab langsung autisme.
Meskipun prevalensinya cukup tinggi, penyebab pasti ASD masih belum diketahui secara jelas. ASD diyakini bersifat multifaktorial, yaitu dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Berikut beberapa faktor yang diketahui berperan.
Faktor Genetik
Anak dengan riwayat keluarga yang memiliki autisme berpeluang lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Riwayat ini dapat berasal dari keturunan sedarah, seperti paman, bibi, kakek, nenek, maupun anggota keluarga lain dalam garis langsung. Meski begitu, tidak ada “gen autisme” tunggal; ratusan gen dapat berkontribusi, baik kecil maupun besar.
Faktor Selama Kehamilan
Beberapa kondisi saat hamil dikaitkan dengan peningkatan risiko ASD, antara lain:
- Infeksi maternal: rubella, cytomegalovirus (CMV), serta infeksi berat disertai inflamasi tinggi
- Kondisi kesehatan ibu: diabetes gestasional, obesitas maternal, hipertensi/preeklampsia, dan gangguan autoimun tertentu
- Paparan zat tertentu: alkohol berat, valproic acid/valproate, pestisida, serta beberapa obat yang memengaruhi perkembangan saraf
- Kekurangan nutrisi: defisiensi folat pada sebagian kasus
Bayi yang terpapar obat tertentu dalam kandungan, seperti valproic acid dan thalidomide, memiliki risiko lebih besar. Thalidomide adalah obat generasi lama untuk mengatasi mual, muntah, kecemasan, dan insomnia, sementara valproic acid digunakan untuk gangguan mood dan bipolar disorder.
Faktor Saat Persalinan
Risiko ASD dapat meningkat pada kondisi:
- Prematuritas ekstrem
- Berat lahir sangat rendah
- Kekurangan oksigen berat saat lahir
- Komplikasi neonatal serius
Namun, sebagian besar bayi dengan faktor ini tetap tidak mengalami ASD.
Faktor Perkembangan Otak
Area tertentu di otak, termasuk korteks serebral dan cerebellum yang berperan dalam konsentrasi, pergerakan, dan pengaturan suasana hati, dikaitkan dengan autisme. Ketidakseimbangan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin juga dihubungkan dengan kondisi ini.
Faktor Usia Orang Tua
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa usia ibu di atas 40 tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko memiliki anak dengan autisme dibandingkan ibu berusia 20–29 tahun. Peningkatan ini diduga berhubungan dengan faktor mutasi gen. Meski demikian, faktor usia tetap perlu dilihat bersama faktor risiko lain dan bukan merupakan penyebab tunggal.
Perlu dicatat bahwa autisme berbeda dengan kondisi perkembangan lain yang gejalanya kadang tampak mirip. Misalnya, anak yang sangat aktif belum tentu mengalami ASD atau ADHD. Anda dapat mempelajari cara membedakan anak aktif, overstimulasi, dan ADHD untuk memahami perbedaannya.
Jenis Terapi Penunjang untuk Anak dengan Autisme
ASD merupakan kondisi bawaan dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Deteksi dini dapat dilakukan melalui skrining tumbuh kembang secara berkala, yang bertujuan menentukan intervensi tepat agar hambatan anak dapat dilatih dan ditingkatkan sedini mungkin.
Berikut beberapa terapi yang dapat dipertimbangkan sesuai kondisi dan kebutuhan anak.
Terapi Wicara
Terapi wicara membantu memperkuat otot-otot mulut (kemampuan oral motor), mengembangkan komunikasi dua arah, serta meningkatkan kemampuan bahasa reseptif, bahasa ekspresif, dan bicara secara keseluruhan sesuai milestone anak.
Terapi Okupasi
Terapi okupasi melatih kemandirian anak dalam aktivitas sehari-hari, termasuk kekuatan dan keterampilan motorik halus. Terapi ini juga dapat melibatkan keterampilan lain yang berkaitan dengan fungsi harian, seperti sosialisasi, fokus, dan kemampuan adaptif lainnya.
Terapi Sensori Integrasi
Terapi sensori integrasi bertujuan melatih kemampuan anak dalam memproses input sensori. Terapi ini menjadi salah satu terapi utama bagi anak dengan ASD, karena hambatan utama autisme berkaitan erat dengan pemrosesan sensori.
Terapi sensori integrasi sering disalahartikan sama dengan permainan sensori biasa di rumah. Padahal keduanya berbeda. Pelajari lebih lanjut mengenai perbedaan terapi sensori integrasi dengan sensory play di rumah agar Anda dapat mendampingi anak dengan tepat.
Terapi Perilaku
Terapi perilaku dengan pendekatan Applied Behavior Analysis (ABA) bertujuan meningkatkan respons dua arah anak, kemampuan imitasi, dan regulasi emosi. Fokus utamanya adalah meningkatkan perilaku adaptif yang diharapkan.
Kapan Orang Tua Perlu Melakukan Pemeriksaan?
Karena gejala ASD sering mulai tampak pada usia 12–24 bulan, orang tua dianjurkan untuk waspada terhadap tanda keterlambatan perkembangan, terutama dalam interaksi sosial dan bahasa.
Sebaiknya pertimbangkan konsultasi atau skrining bila anak menunjukkan:
- Keterlambatan bicara yang signifikan
- Kurangnya kontak mata atau respons sosial
- Perilaku berulang atau minat yang sangat terbatas
- Reaksi berlebihan atau justru minim terhadap rangsangan sensori
- Perkembangan yang tidak sesuai milestone usianya
Deteksi dan intervensi dini memberikan peluang lebih baik bagi anak untuk berkembang sesuai potensinya.
Kesimpulan
Gangguan Spektrum Autisme merupakan gangguan perkembangan yang diagnosisnya ditegakkan berdasarkan gejala yang tampak, ditandai dengan hambatan interaksi sosial, gangguan sensori, keterlambatan bahasa (termasuk echolalia dan mutism), pola bermain yang repetitif dan stereotipik, serta keinginan mempertahankan keteraturan lingkungan.
Penanganan ASD bertujuan meningkatkan kualitas hidup anak dan keluarga serta kemampuan adaptif dalam aktivitas sehari-hari. Intervensi yang tepat dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, sehingga skrining tumbuh kembang maupun pemeriksaan psikologis menyeluruh menjadi langkah penting untuk memahami prioritas pendampingan yang paling sesuai bagi si kecil.
Jika Anda melihat tanda-tanda hambatan perkembangan pada anak, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional agar dapat memperoleh asesmen dan arahan yang tepat sejak dini.
Sumber
- American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of
- Mental Disorder Fifth Edition. United States of America: America Psychiatric Publishing.
- Budhiman, M. (1997, November). Tata Laksana terpadu pada Autisme. Symposium
- Tata Laksana Autisme: gangguan perkembangan pada anak. Yayasan Autisme Indonesia. Jakarta.
- Botelho, R. M., Silva, A. L., & Borbely, A. (n.d.). The Autism Spectrum Disorder and Its Possible Origins ini Pregnancy.
- Love, C., Sominsky, L., O’Hely, M., Berk, M., Vuillermin, P., & Dawson, S. (2024). Prenatal environmental risk factors for autism spectrum disorder and their potential mechanisms. BMC Medicine, 22 – 393.
- Safaria. (2005). Autisme Pemahaman Baru untuk Hidup Bermakna bagi Orang Tua. Yogyakarta: Graha Ilmu.
- Sunartini. (2000, Juli). Anak autis: mani – festasi klinis, penyebab dan
- pendeteksiannya. Seminar Deteksi dan Intervensi Dini Autisme. Pusat pengka jian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak. Pena Leluasa AMSA FK UGM. Yogyakarta.
- Singhai, A.J.; Chhabra, A.S.; Bhatt, A.; Soni, A. Ealy Electronic Screen Exposure and Autistic like Symptoms. Int. J. of Pharmaceutical and Clinical Research 2024; 16(12); 18-20
- Thapar, A. & Rutter, M. Genetic Advance in Autism. Journal of Autism and Developmental Disorders (2021) 51:4321–4332 https://doi.org/10.1007/s10803-020-04685-z